Tips Mengatasi Anak Hiperaktif

Tips Mengatasi Anak Hiperaktif. Bunda Rama merasa kewalahan menghadapi putra semata wayangnya yang berusia 5 tahun. Hampir setiap hari ada saja laporan dari guru di sekolah atau tetangganya tentang kenakalan-kenalan Rama. Menurut psikolog yang didatangi oleh bunda Rama, ternyata Rama tergolong anak yang hiperaktif. Dan bagi sebagian besar ibu, memiliki anak hiperaktif adalah ketakutan yang sangat besar.

Ada tiga gejala yang mengindikasikan seorang anak memiliki gangguan hiperaktif:

Inatensi, yakni rendahnya pemusatan perhatian atau konsentrasi pada anak. Anak-anak degan gangguan hiperaktif tidak atau hanya memiliki kemampuan berkonsentrasi yang sangat rendah. Perhatiannya begitu mudah teralihkan dari satu hal ke hal yang lainnya.

Hiperaktif, yakni anak tidak bisa diam. Ia banyak melakukan gerakan-gerakan dan begitu sulit untuk dibuat duduk diam dan tenang. Ia senang berlari-lari, membuat suara-suara berisik, berjalan kesana kemari, dsb. Karena itu, seringkali anak hiperaktif pulang dengan membawa banyak luka akibat ulahnya sendiri.

Impulsif, yakni lemahnya menunda respon. Perilaku impulsive ini ditandai dengan ketidakmampuan anak mengendalikan sesuatu. Ia biasa melakukan segala sesuatunya tanpa pertimbangan dan sering kali ditunjukkan dengan ketidaksabaran.

Nah, ketika anak mengalami gangguan hiperaktif ini, para ibu biasanya menjadi gugup dan kebingungan. Sering kali mencoba menutup diri dan tidak mau mengakui apa yang dialami anaknya. Padahal, sebetulnya, tidak perlu gugup atau kuatir yang terlalu tinggi.

Menerima dengan ikhlas. Segala sesuatunya telah ditentukan oleh Yang Maha memberikan anak, yaitu Allah. Jika Allah menguji kita dengan hadirnya anak dengan gangguan hiperaktif, itu tandanya Allah Tahu bahwa kita mampu dan dapat mengatasi serta mendidik anak dengan sebaik-baiknya.

Anak hiperaktif cenderung memiliki kecerdasan yang luar biasa. Ini yang sering kali dilupakan bahkan tidak diperhatikan. Para ibu cenderung bergulat dan berkutat pada kesedihan dan kekecewaan terhadap putranya. Tapi tidak mau melihat, bahwa anak-anak dengan gangguan hiperaktif ternyata memiliki kecerdasan yang luar biasa. Tugas ibulah yang mencari dan menggali kecerdasan ini.

Ajarkan kedisiplinan. Anak-anak hiperaktif cenderung tidak disiplin. Mereka tidak mau tenang, dan cenderung membangkang. Tidak patuh pada aturan. Nah, jika demikian, maka Anda harus membuat sebuah “kontrak” perjanjian dengannya untuk berlatih disiplin.

Tidak menghukumnya secara berlebihan. Bukan salah anak Anda jika ia hiperaktif. So, jangan menghukumnya karena gangguan hiperaktif ini. Melatihnya berdisiplin, oke. Tapi, dengan cara yang baik dan benar.


Lebih banyak bersabar. Ini adalah tuntutan utama bagi para orangtua. Tanpa kesabaran, maka Anda tidak akan dapat menangani anak Anda dengan baik.

Menjaga komunikasi dan biarkan ia merasakan kasih sayang Anda. Ketika anak melihat dan merasakan perhatian yang diberikan orangtuanya, dan memang, perlu diakui, bahwa menjalin komunikasi dengan anak-anak hiperaktif ini harus senantiasa. Ibaratnya, harus setiap menit kita mengajaknya berkomunikasi. Dan bukannya memanjakan, perhatian terhadap anak-anak hiperaktif memang harus lebih banyak dibandingkan saudara-saudaranya yang normal.

pondokibu.com

7 Cara Membangun Ikatan dengan Bayi Anda

Menjadi orang tua merupakan pengalaman yang indah dan unik. Setiap orang tua ingin menikmati hubungan dekat dengan anaknya. Walaupun sebagian besar orang tua yang bekerja memiliki jadwal yang sibuk, hal ini tidaklah sulit dicapai bila Anda tahu caranya.

Di bawah ini ada beberapa tips yang dapat diikuti: 7 Cara untuk Lebih Dekat dengan Anak Anda


1. Komunikasi antara Orang Tua dan Anak


Alih-alih berbicara pada atau berbicara mengenai anak Anda, berbicaralah dengan anak Anda. Anda harus menjadi selevel dengannya. Bila Anda ingin memahami apa yang dipikirkan atau dirasakan anak Anda, tanyakanlah padanya dan dengarkanlah. Jangan menghakimi apa yang disampaikannya. Akui ide dan perasaannya walaupun Anda tidak menyetujuinya. Anda juga dapat mengutarakan pendapat dan perasaan Anda pada anak Anda.

Selain itu, Anda perlu terus meyakinkan anak Anda akan cinta Anda padanya melalui ekspresi verbal seperti "Mama sayang kamu" dan tindakan non-verbal seperti ciuman, pelukan atau tepukan di bahunya.


post by ntxtcy:
Yap... bener banget nih. Yang biasanya ane lakuin adalah mengajak komunikasi dia dengan santai. Penuh canda dan kasih sayang. Mulai dari bangun tidur, ane mau berangkat ngantor, ane telpon rumah, ane pulang kantor, bermain sama dia, ane biasain ucapkan kata "sayang"

2. Pujilah anak Anda


Pujilah anak Anda bila dia melakukan sesuatu dengan baik atau mencapai hasil yang baik. Pujilah dia untuk perbaikan yang dilakukannya atau perilaku yang Anda ingin diulangnya. Pujian Anda harus tulus dan tidak ada kritik di dalamnya. Gunakan pujian untuk menggambarkan apa yang Anda sukai dari apa yang dilakukannya atau perilakunya. Alih-alih hanya mengatakan “waah.. gambar yang bagus", Anda bisa berkata, "Mama suka warna-warna yang kamu gunakan di lukisan ini. Mereka membuat lukisanmu benar-benar mencuat!" Alih-alih hanya mengatakan "Anak baik", Anda bisa mengatakan, "Mama senang kamu merapikan kamarmu. Sekarang kamarmu tampak rapi sekali."

post by ntxtcy:
Seorang anak akan merasa senang, bangga dan merasa disayangi apabila ada pujian yang berharga bagi dirinya. Hal ini ane terapin di rumah setiap kali dia melakukan kebaikan.

3. Luangkan waktu untuk anak Anda


Luangkan waktu untuk anak Anda setiap hari. Ketika Anda sedang bersama dengan anak Anda, Anda harus terlibat sepenuhnya. Tundalah pekerjaan rumah Anda, membaca koran atau kecemasan lain di saat-saat ini. Memberitahu anak Anda bahwa Anda menikmati saat-saat bersamanya pasti akan mendekatkan Anda berdua. Lakukan hal lain bila Anda tidak dapat melewatkan waktu bersamanya pada hari tertentu. Misalnya, telponlah dia dari kantor untuk mengobrol selama lima menit untuk menunjukkan bahwa Anda memikirkannya. Atau bila Anda tidak dapat makan malam bersamanya, Anda bisa menikmati makanan pencuci mulut bersamanya setelahnya.

Sekali-sekali ambillah cuti sehari atau setengah hari dari jadwal Anda yang penuh dan lakukan sesuatu yang spesial dengan anak Anda. Pilih sesuatu yang Anda berdua akan nikmati dan bukanlah kegiatan sehari-hari. Misalnya, berjalan-jalan di hutan lindung dan makan siang yang telah Anda siapkan berdua paginya.

4. Bermainlah dengan anak Anda


Waktu yang Anda lewatkan bersama anak Anda memberikan kesempatan bagi Anda untuk membangun hubungan yang positif dan sehat dengan anak Anda. Hubungan ini akan berkembang seiring dengan bertambah dewasanya anak Anda. Bermain dengan anak Anda tidak mesti membutuhkan mainan mahal. Anda dapat mengingat permainan di masa kecil yang Anda sukai dan mengajarkannya pada anak Anda.

post by ntxtcy:
Kalo hal ini mah tiap hari ane lakuin .
Dari sebelum berangkat ngantor, ane selalu sempatkan bermain dengan dia
Bermain sambil ane sarapan pagi . Ane masuk 5 hari kerja. Sabtu Minggu ane maksimalkan buat keluarga. Kalo hari-hari biasa, pastilah sepulang kantor ane luangin waktu buat mereka. Prinsip ane, Pulang kerja lupakan kantor


5. Perhatikanlah perasaan anak Anda


Apa yang dialami oleh anak Anda sehari-hari menimbulkan berbagai perasaan padanya. Dia bisa merasa senang karena dipuji oleh gurunya atau merasa kesal karena baru saja bertengkar dengan sahabatnya. Cari tahu apa yang sedang terjadi pada anak Anda dan perhatikan perasaannya terhadap apa yang dialaminya, baik positif maupun negatif.

Dengarkanlah anak Anda dan berbicaralah dengannya mengenai perasaannya. Misalnya, Anda bisa berkata, "Dari apa yang kamu ceritakan, kedengarannya kamu marah pada John karena dia membicarakanmu di belakangmu." Beri dia kesempatan untuk menjelaskan perasaannya. Dengan memperhatikan dan membicarakan perasaannya, Anda menunjukkan padanya bahwa Anda benar-benar ingin memahaminya.

6. Tumbuhkan kemandirian anak Anda


Banyak orang tua berusaha untuk mendekatkan diri dengan anak mereka dengan berpegang terlalu erat. Berikan anak Anda kebebasan untuk menjelajahi dunia dengan cara yang sesuai dengan usianya. Contohnya, seorang anak kecil bisa diperbolehkan pergi ke taman dengan temannya, di bawah pengawasan. Dengan memberikan anak Anda kebebasan yang diperlukannya dan memberikan keamanan di rumah, Anda menjembatani jarak antara Anda dan anak Anda.

7. Pecahkan masalah bersama anak Anda


Bila anak Anda menemui masalah, Anda tidak perlu selalu memberikan solusinya, memberitahu apa yang harus dilakukannya. Anda pun tidak akan mau meninggalkannya sendirian menghadapi masalahnya. Jadilah mitra bagi anak Anda dalam pemecahan masalah. Dengarkan dan pahami situasinya. Berikutnya, cari tahu bagaimana anak Anda memandang atau perasaannya terhadap masalah tersebut dan apa yang dapat dilakukannya. Berikan solusi lain bila Anda bisa. Bantulah anak Anda untuk memikirkan konsekuensi yang mungkin terjadi dari tiap pilihan. Bersama-sama, Anda dan anak Anda kemudian dapat memutuskan solusi yang terbaik. Memecahkan masalah dengan anak Anda tidak hanya mengajarkannya ketrampilan yang penting bagi hidupnya, tapi juga membangun ikatan yang kuat antara Anda dan anak Anda ketika Anda mengalahkan masalah yang ada bersama-sama.


http://www.huggies.co.id/BH/BeingAParent/SocialAndEmotional/BondingWithYourBaby.aspx

Bahaya Jajanan Anak Di Jalan

Bahaya Jajanan Anak Di Jalan. Jajan di jajanan jalanan sepertinya sudah menjadi trend anak sejak dulu. Walaupun sudah diberi bekal dari rumah, si Kecil kadang membeli jajanan jalanan terbawa dan tersugesti dari teman-teman.

Untuk hal yang satu ini ada baiknya orangtua memberi perhatian extra budaya jajan tak sehat tersebut.

Baca juga: Awas! zat berbahaya pada jajanan anak

Tiada bekal apalagi akan menjadi alasan utama anak yang merasa kelaparan di sekolah. Pola hidup orangtua akan mempengaruhi kebiasaan si Kecil. Contoh: Orangtua yang tidak menyiapkan bekal karena terburu-terburu serta ketergesaan lagin di pagi hari.

Orangtua harus lebih arif dan bijaksana dalam mengelola makanan anak sehingga jajan di luar rumah dapat dikesampingkan. Bila hendak jajan, setidaknya pilihlah penganan yang layak harga, ada jaminan higienisnya, bahkan lebih baik lagi menyiapkannya di rumah.

Bahaya kandungan jajanan jalanan antara lain:

Air mentah, beberapa penjual minuman segar seperti dawet, cendol, sirup dsb tak semuanya menggunakan air matang untuk dagangannya. Hal ini karena harga bahan bakar yang tinggi yang tidak menutup untuk harga penjualan. Padahal ini sangat bahaya, minimal diare dapat menyerang si Kecil.

Pemanis dan pewarna buatan, jelly dan permen-permen ataupun kue-kue kecil yang djajakan di lingkungan sekolah tak layak bagi kesehatan. Gula dan pewarna buatan memiliki harga yang cukup jauh dengan gula alami. Padahal jika dikonsumsi dalam waktu yang lama, para ahli menyatakan dapat mengganggu sirkulasi darah, hiperaktif, kanker hingga gangguan mental.


Bahan narkoba, belakangan ini ada kasus yang menyatakan seorang penjaja makananyang menawarkan perme yang dibubuhi narkoba. Si Kecil bisa kecanduan dan menjadi budak narkoba dalam masa depannya.

Kemasan Plastik, hamper semua bahan makanan anak-anak di sekolah dikemas dalam plastik. Pembungkus gorengan, pembungkus es, dll. Padahal tidak semua plastik ramah lingkungan dan aman bagi kesehatan. Bahan plastik yang terbuat dari campuran bahan kimia ini bisa memberikan andil penyakit kemudian hari.

Trik mengantisipasi budaya jajan jalanan:
  • Ajak bicara dan ber pengertian tentang bahaya penganan di luar rumah
  • Jadwalkan waktu yang regular agar anak bisa sarapan di rumah.
  • Jika memungkinkan, beri anak bekal makanan dan minuman dari rumah untuk mengantisipasi rasa lapar si Kecil.
  • Mengolah makanan secara kreatif dan variatif.
  • Meberi uang jajan tidak berlebihan dan mensugesti untuk menabung.

http://www.info-sehat.com/inside_level2.asp?artid=1527&secid=23

Cara menghadapi anak yang gemar berbelanja

Anak balita sering menginginkan semua hal yang dilihatnya di lingkungan sekitar, misalnya karena melihat teman-temannya memilikinya, atau hasil nonton televisi. Berdasarkan Asosiasi Industri Mainan di Amerika, penjualan mainan anak bisa mencapai Rp 177.300 milyar pada tahun 2010. Anak-anak masa kini sudah lebih pandai menempatkan dirinya sebagai konsumen, dan anak-anak berusia 4-12 tahun bisa menghabiskan Rp 8 milyar dalam setahun untuk membeli makanan siap saji, pakaian, dan mainan.

Yang menjadi masalah adalah ketika anak merengek jika permintaannya tidak dipenuhi. Hal ini bisa menjadi sebuah dilema. Jika Anda terus-menerus memenuhi semua kebutuhannya,anak akan menjadi manja dan Anda menghamburkan uang. Sedangkan jika tak dipenuhi maka rengekan bahkan tangisannya akan terus terdengar. Jadi, bagaimana cara menghadapi rengekan anak seperti ini..!?

Dampingi ketika melihat iklan. Televisi merupakan salah satu penyebab mengapa anak-anak merengek tentang mainan dan meminta Anda membelikannya. Untuk mengatasi hal ini, sebaiknya Anda membatasi waktu anak untuk menonton tayangan di TV. Namun, ini bukanlah satu-satunya cara untuk mengatasinya, karena ada juga iklan yang bisa mendidik anak. Beri pengertian kepada anak, dan diskusikan baik-buruknya produk tersebut, agar anak bisa memilih dengan baik apa yang diinginkannya.
Tidak terpengaruh rengekan.

Buat jadwal belanja. Waktu berbelanja bersama anak seringkali jadi saat yang kurang menyenangkan karena Anda harus mengeluarkan uang lebih untuk memenuhi keinginannya. Kini, begitu banyak toko dan restoran yang menjual paket makanan dan mainan yang bisa "menggoda" anak. Hal ini berakibat tak ada lagi tempat "aman" bagi orangtua untuk menghindari rengekan anak. Untuk mengatasinya, buat jadwal kapan Anda berbelanja tanpa anak-anak. Ketika cara ini pun tak bisa dilakukan, maka Anda harus berpegang teguh pada janji Anda untuk tak memenuhi keinginannya di luar daftar belanja. Ya, sekalipun karena itu anak jadi menangis.

Bangun kebiasaan. Agar anak tak terbiasa meminta jajanan atau mainan, kuncinya adalah membangun kebiasaan anak untuk berhemat dengan tidak selalu membeli barang baru ketika ikut berbelanja. "Adalah hal yang terpenting untuk mendidik anak sejak dini untuk tak terbiasa membeli barang baru. Sejak anak-anak kecil, saya tak pernah membelikannya berbagai barang yang tak perlu. Jadi pada titik ini, anak-anak akan terbiasa dengan cara orangtua untuk tidak membelikan berbagai barang yang tak dibutuhkannya," ( ungkap Juliet Schor, penulis buku Born to Buy. )

Ajarkan menentukan prioritas. Setiap keluarga pasti memiliki aturan tersendiri dalam keuangan. Sangat penting bagi anak untuk mengetahui cara Anda mengatur keuangan. Hal ini sebaiknya dikenalkan sejak balita. Ketika berada di sebuah toko dan ia merengek meminta mainan, dari pada memarahinya lebih baik Anda tunjukkan barang lain yang bisa dibelinya sambil menjelaskan mengapa benda tersebut lebih layak dibeli. Misalnya, membeli buku bacaan. Jelaskan juga pentingnya menyimpan uang untuk tujuan jangka panjang. Anak mungkin belum mengerti manfaatnya, namun jika penjelasan ini sering dilakukan dan dilihatnya, perlahan ia akan mulai memahami pentingnya uang.



Ajak menabung. Ketika anak sudah lebih besar, sebaiknya ajarkan tentang pentingnya menabung. Misalnya ketika ingin membeli sebuah mainan, ajarkan dia untuk membelinya dari tabungannya sendiri. Saat berada dalam sebuah kesempatan spesial, tak ada salahnya untuk menghadiahinya uang untuk dibelanjakan sesuai keinginannya. Namun, beri beberapa masukan untuk menghabiskan uangnya tersebut.Misalnya, mana yang lebih baik: membeli makanan atau mainan? Mana yang akan lebih tahan lama, dan bisa dinikmatinya.

Beri penjelasan. Ketika anak-anak menginginkan sesuatu, dengarkan alasannya dengan seksama. Ketika Anda memutuskan untuk tak memenuhinya, berikan juga penjelasan yang tepat. Jangan pernah menolak permintaan anak tanpa memberikan alasan yang tepat mengapa Anda menolaknya. Hal itu akan membuatnya merasa Anda adalah orangtua yang arogan dan tidak menghargai mereka.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=11806014

Bagaimana Cara Yang Tepat Untuk MEMUJI Anak?

Kebanyakan orang tua pasti senang memuji dan membanggakan anaknya. Namun, beberapa pujian atau cara memuji yg diberikan orang tua terkadang kurang efektif dan kurang tepat sasaran. Bagaimana sih pujian yang tepat itu, agar berdampak positif bagi si kecil dan bukan sebaliknya? Ikuti beberapa petunjuk di bawah ini.




Harus Lebih Spesifik
Anak menggambar sebuah bunga. Gambar itu bagus sehingga Anda merasa perlu memujinya. Tetapi, jangan katakan, "Gambar itu bagus!". Perhatikan dulu gambarnya dengan cermat. Pilih bagian terbaik dari gambar itu. Bunganya yang berwarna merah, misalnya. Maka katakan, "Bunganya yang merah bagus sekali. Mama suka!"

Kalimat Anda akan memicunya untuk menggambar lebih baik, sehingga Anda tidak hanya memuji bunga yang merah saja, tetapi juga daunnya, bunga yang kuning dan semua yang ada di gambar itu.

Di Depan Orang Lain
Karena semua orang menyukai pujian, ada baiknya pujian pada si kecil juga tidak hanya diberikan saat dia sendirian. Berikan juga ketika dia sedang bersama yang lain, misalnya ayahnya, gurunya, om dan tantenya. Tetapi gunakan cara yang tidak terlalu langsung. Contohnya, "Ayah sudah melihat gambarmu yang bagus tadi? Coba tunjukkan, pasti komentar Ayah akan sama dengan komentar Ibu tadi!"

Iringi Dengan Perhatian
Agar pujian Anda membuat si kecil lebih termotivasi, barengi dengan perhatian, jadi jangan sekedar memuji. Misalnya, si kecil berhasil mengayuh sepedanya tanpa jatuh. Pujilah! "Bagus! Berarti anak Mama sudah besar ya!"


Hari berikutnya, saat melihat dia bersiap-siap dengan sepedanya, luangkan waktu Anda untuk melihat sendiri kemampuannya. Di tengah dia bersepeda, acungkan kedua jempol Anda sambil memujinya, sekali lagi. Maka si kecil akan semakin bersemangat.

Hargai Usahanya
Saat anak berhasil menuliskan namanya sendiri, meski belum sempurna, Anda perlu memberikan penghargaan yang lebih dari sekedar kata pujian. Misalnya, "Ayo kita tempel di lemari es. Biar semua orang tahu kalau anak Mama sudah pintar menulis!". Kesediaan Anda memamerkan karyanya itu kepada yang lain, akan membuat si kecil lebih bersemangat dalam meningkatkan kemampuan tulisnya.

Pilih Positifnya
Si kecil mulai bisa memakai celana sendiri, tetapi belum bisa mengenakan kaosnya. Maka pujilah kemampuannya mengenakan celana sendiri itu saja. Jangan singgung-singgung soal ketidakmampuannya memakai kaos sendiri.

Atau katakanlah, "Pintarnya Anak Ibu, sudah bisa pakai celana sendiri. Jangan lupa kaosnya ya!". Ini lebih baik daripada, "Kenapa tidak sekalian dengan kaosnya?" Kalimat yang terakhir ini akan membuatnya merasa 'kecil' dan belum layak dipuji. Kasihan kan?

Pujian Tanpa Syarat
Pujian yang baik adalah yang diberikan tanpa embel-embel, tanpa syarat. Jangan memuji dengan kalimat, "Mama akan lebih bangga kalau kamu juga bisa pakai kaos sendiri. Biar nggak Cuma pakai celananya saja."

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8583556

Tips Menumbuhkan Minat Baca Anak

Membaca adalah salah satu kebiasaan yang perlu "ditanamkan" pada diri anak-anak. Namun, tidak sedikit orang tua yang mengeluh sulitnya membuat anaknya benar-benar gemar membaca. Kebanyakan anak lebih menikmati sajian televisi daripada membaca buku. Padahal sebagai orang tua tentu kita paham bahwa televisi lebih banyak menyajikan tayangan yang bersifat hiburan semata. Sangat minim tayangan televisi yang menampilkan sisi edukasi.

Sejalan dengan pendapat David Shenk, "Buku/ membaca adalah kebalikan dari menonton/ televisi. Buku memang lambat, namun menarik hati, menginspirasi, mengasah otak, dan menumbuhkan kreativitas."

Nah, pertanyaannya bagaimana
cara menumbuhkan minat baca Anak? Di bukunya berjudul "Menumbuhkan Minat Baca Sejak Dini", Masri Sareb menawarkan 8 tips. Ya, 8 tips yang layak untuk kita coba! Apa saja 8 tips tersebut? Ini dia:

Membacakan Cerita Pada Si Jabang

Kebiasaan membacakan buku bermutu pada bayi yang masih dalam kandungan memberi pengaruh positif pada tingkat kecerdasannya. Seperti halnya menperdengarkan musik klasik.

Membacakan Cerita Sebelum Tidur
Tips ini dapat merangsang anak untuk terbiasa dengan buku. Selain itu juga sebagai wujud nyata orang tua memberi teladan cinta buku.


Rekreasi ke Toko Buku atau Taman Bacaan
Rekreasi bukan hanya ke pantai, mall, atau tempat-tempat wisata lainnya. Toko buku dan perpustakaan juga bisa menjadi tempat untuk berekreasi.



Biasakan Memberi Kado Buku
Anak sedang ulang tahun, naik kelas, juara kelas? Saat memberi kado istimewa! Buku bacaan kesukaannya.


Menugaskan Anak Meringkas Bacaan
Meringkas bacaan berarti mendorong anak untuk membaca bahan bacaan yang akan diringkas. Ini adalah tips jitu sekedar "memerintah" anak untuk membaca bahan bacaan tersebut.


Membuat Soal dari Bacaan
Menjawab soal-soal yang jawabannya "menuntut" anak membaca. Ini juga tips jitu yang lain, selain meringkas.

Membiasakan Siswa yang Lulus Memberi Buku Sebagai Kenang-kenangan
Memberi kenang-kenangan buku kepada sekolah yang akan ditinggalkan mendorong anak mengetahui buku yang belum ada di perpustakaan sekolah. Mungkin si anak tidak sempat membaca semua buku yang ada di perpustakaan sekolah, namun setidaknya dia akan melihat buku atau daftar buku yang ada.

Cinta Buku Berawal dari Pangkuan Ibu
Peran orang tua sangat berpengaruh pada "budaya" si anak! Kuncinya pada teladan. Bagaimana si anak dapat melihat dan merasakan ayah dan ibunya mencintai buku. Kemudian si anak akan meniru kebiasaan yang dilihat dan dirasakannya itu.

http://www.kaskus.us/showthread.php?t=8418060

Anak cerdas? hentikan kebiasaan nonton tv

TRIBUNNEWS.COM - Jangan biasakan anak Anda menonton televisi meskipun masih bayi. Penelitian menyebutkan bayi yang menonton tv cenderung mengalami keterlambatan kognitif dan bahasa di 14 bulan pertama

Penelitian dari New York University School of Medicine-Bellevue Hospital Center mengatakan bayi yang menonton tv 60 menit setiap hari, memiliki perkembangan tiga kali lebih rendah setelah 14 bulan dibanding yang tidak.

Meskipun perkembangan tersebut masih dalam kisaran normal, perbedaan yang nyata terlihat ketika anak-anak dan orang tua menonton tv bersama. Dalam kondisi ini, mereka lehilangan waktu berbicara, bermain dan berinteraksi untuk pembelajaran dan perkembangan.


Untuk pilihan program acara, penelitian ini juga tidak memberikan nilai plus minus. Meskipun anak menonton program yang berbau pendidikan, orang tua malah menghabiskan waktu sedikit untuk mengajar anak membaca dan sebagainya.

Walaupun anak terbantu belajarnya dengan berbagai macam program pendidikan, pada kenyataannya anak-anak akan lebih mudah memahami sekaligus senang ketika diajarkan langsung oleh orang dewasa. Pengasuh elektronik bukanlah bantuan pendidikan.

"Mengajarkan anak langsung berbicara dan membaca akan membuat anak merasa bergembira saat belajar. Dan penelitian ini sangat memberikan keterbukaan bagi orangtua yang masih enggan mengajar langsung untuk anak-anak mereka," tambah para peneliti.

Sumber: TribunNews.com
Copyright 2011. All rights reserved.
artist photos